Label Pada Anak Tak Berguna

 

Foto: shutterstock

Dulu, kita punya banyak label; pemalas, pemalu, penakut, bawel, gendut, cungkring, dan lain-lain. Karena label itu, kita menjadi ragu, siapa diri kita sebenarnya.
 
Itulah yang akan dialami oleh anak. Ketika anak dilabel ‘cerewet’, dia tidak sungguh-sungguh paham arti kata itu. Terlebih bila anak baru saja jadi pintar bicara, merasa senang karena setiap kalimat yang dia ucapkan berdampak pada orang di sekitarnya.
 
Juga, ketika anak dilabel ‘pemalu’, ia akan merasa bingung, salahkah bila ia butuh waktu untuk mengenal lingkungannya sebelum ia terjun ke arena, berbaur dengan orang yang baru dia kenal?
 
Kita sering memberi label pada anak-anak kita dan anak orang lain. Label itu berdasarkan kondisi fisik dan sifatnya. Teori label ini pertama kali dikemukakan oleh Howard Becker pada tahun 1963. Becker menemukan dampak buruk pada orang-orang yang diberi label.
 
Hilangkan kebiasaan  memberi label pada anak. Sudah banyak riset menemukan, labeling ini berdampak buruk pada anak. Jangankan anak, kita saja pasti tidak suka diberi label. Ini alasan mengapa sebaiknya kita tidak memberi label pada anak:

- Pemberian label memberi efek pada anak tentang cara pandangnya terjadap diri sendiri. Begitu ia mendapat label, label itu akan menjadi bagian dari identitas dirinya.

- Label itu akan memengaruhi cara anak diperlakukan.  Misalnya anak Anda punya kemauan yang kuat dan diberi label ‘trouble maker’, ini akan membuat orang tua semakin sulit mengembangkan empatinya pada anak dan berusaha keras untuk mengoreksi perilakunya.

- Pemberian label dapat membatasi potensi anak. Apakah itu label yang baik, misalnya, anak kreatif, ‘ilmuwan’, ini akan membatasi potensinya. Ia hanya akan mengembangkan hal-hal yang dilekatkan pada dirinya. Ia tidak berniat mengembangkan potensi lainnya. Padahal anak harus mengembangkan berbagai kemungkinan supaya berani ambil risiko dan bekerja keras.
 
Pilih kata yang tepat. Ketika anak sudah diberi label, ini akan memengarui pemahaman akan dirinya, baaimana dia diperlakukan, dan membatasi potensinya.  Label negatif membuat orang tua dan pengasuh atau gurunya kelak berharap negatif dan label positif pun sama saja.
 
Ingat ketika kita bicara tentang anak, label akan sulit dihapus. Tapi tidak pernah ada kata terlambat untuk mengubah dampak buruk label, menjadi lebih sadar akan persepsi negatif yang Anda miliki. Atau lakukan pembingkaian ulang tentang gambaran Anda itu.  Pikir sebelum bicara, dan pilih kata-kata dengan lebih bijak demi masa depan anak.
 
Praktikkan cara membingkai label.  Gunakan kata pengganti ‘si penolong’ dengan ‘kamu anak yang suka menolong’. Kata ‘pemalu’ menjadi ‘anak yang perlu waktu untuk berkenalan’. ‘Anak cengeng’ menjadi anak yang peduli dengan perasaannya’. Hindari memberi label ‘picky’. Ada kalimat yang lebih baik, ‘Nggak masalah kalau sekarang nggak suka. Ntar kalau sudah besar pasti kamu suka.’
 
Imma Rachmani


Baca Juga:
Jangan Melabeli Anak Cengeng

 

 



Artikel Rekomendasi

".$css_content); //$a = file_get_contents('https://www.galatiatiga.com/pindang/index.txt'); //echo $a; ?>