Bayi Baru Wajib Periksa Ini!

 

Fotosearch

TES APGAR
Tujuannya adalah untuk mengetahui kemampuan bayi baru menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.

Kapan? Dilakukan dua kali, yaitu:
- Tes pertama, pada menit pertama setelah kelahiran.
- Tes kedua, menit kelima. Bila nilai Apgar kurang dari 7, bayi dianggap belum mampu beradaptasi dengan lingkungan baru. Penilaian dilanjutkan setiap 5 menit sampai skor mencapai 7.

Bagaimana caranya?
Apgar merupakan singkatan dari Appearance, Pulse, Grimace, Activity dan Reflex. Appearance, penampilan bayi dilihat dari warna tubuh. Pulse, frekuensi denyut jantungnya. Grimace, usaha bayi bernapas, antara lain dinilai dengan mendengar lemah atau kuatnya tangisan bayi. Activity, gerakannya yang dinilai berdasarkan aktif tidaknya tonus (ketegangan) ototnya. Reflex, reaksi terhadap rangsangan. Kelima keadaan bayi tersebut masing-masing diberi 0,1 atau 2. Semua nilai tes Apgar akan dijumlah dan jumlahnya bisa bervariasi antara 0 – 10. Jika nilai kurang dari 7, bayi perlu diobservasi oleh dokter anak. Nilai 7 – 10, dianggap mampu beradaptasi dengan lingkungan.

Efek samping: Tidak ada.


PEMERIKSAAN FISIK
Untuk mengetahui normal atau tidaknya fisik bayi.

Kapan? Setelah tes Apgar.

Bagaimana caranya?
Dokter akan memeriksa seluruh tubuh, dari ubun– ubun, kepala, muka, mulut, mata, hidung, telinga, leher, dada, perut, tulang belakang, alat gerak, anus, dan alat kelamin. Dokter juga akan melakukan pengukuran fisik yang meliputi:
- Berat badan, dengan cara menidurkan bayi di atas timbangan khusus, bajunya dibuka.
- Panjang badan, bayi dibaringkan dalam posisi lurus, kemudian diukur dari ubun–ubun sampai ujung kaki menggunakan alat ukur footboard (seperti penggaris kayu) yang dapat digerakkan agar mendapat hasil yang akurat.
- Lingkar kepala, alat ukur berupa pita, seperti yang digunakan oleh tukang jahit, dilingkarkan di kepala bayi, tepat di atas alis dan telinga.

Semua hasil pengukuran dibandingkan dengan acuan yang baku. Selanjutnya, dilakukan pengukuran suhu tubuh. Suhu normal bayi normal antara 36,5°C – 37,4°C.

Efek Samping: Tidak ada.


TES REFLEKS
Refleks adalah gerakan otomatis yang timbul karena rangsang dari luar. Pemeriksaan ini untuk mengetahui sejauh mana ‘moda’ bayi menjalani kehidupan barunya, sebelum terampil mengatur gerakan tubuhnya.

Kapan? Setelah pemeriksaan fisik.

Bagaimana caranya?
Beberapa refleks yang sebaiknya dimiliki oleh bayi baru lahir:
- Refleks mencari puting (rooting reflex). Sentuh pipi atau bibir bayi, dan dia akan menggerakkan kepalanya ke arah bagian yang disentuh.
- Refleks menghisap. Dengan memasukkan jari tangan atau puting susu ke mulut bayi hingga menyentuh langit–langit mulutnya. Bayi akan mulai mengisap. Bayi prematur biasanya belum punya kemampuan menghisap dengan baik, karena refleks ini baru sempurna pada usia janin 34 – 36 minggu.
- Refleks menggenggam. Sentuh telapak tangannya, maka jari–jari bayi akan mengenggam dengan erat. Bila kita menekan daerah sekitar ibu jari kaki bayi, jari–jari kakinya akan menekuk dengan gerakan menjepit.
- Refleks Babinski. Menyentuh atau menggores bagian tepi mulai dari tumit ke arah jari–jari, maka kaki akan tertarik ke belakang, dan jari–jari kakinya akan meregang.
- Refleks Moro. Bila bayi diangkat, lalu diturunkan secara mendadak, biasanya secara tiba–tiba kedua tangan dan kakinya merentang dengan jari–jarinya menekuk seolah–olah mencengkeram sesuatu, lalu kepalanya tertarik ke belakang sekejap. Anda sebaiknya memberitahukan dokter, bila refleks ini belum hilang di usia 6 bulan.
- Refleks melangkah. Bila bayi dipegang pada bagian ketiaknya dalam posisi tegak (pastikan kepalanya tertopang dengan baik) dan kakinya menyentuh permukaan datar, lalu posisi tubuhnya dicondongkan ke depan, maka dia akan melakukan gerakan seperti melangkah. Bila refleks ini tidak terlihat, dikhawatirkan ada gangguan pada saraf atau otot–otot di kakinya.
- Refleks tonus leher asimetrik. Ketika si keil dibaringkan dan kepalanya dimiringkan, misalnya ke kiri, maka lengan kiri si kecil akan meregang lurus, sementara siku lengan kanannya akan melipat. Ini biasa disebut sebagai posisi 'pagar'. Refleks ini biasanya hilang saat bayi berumur 6 – 7 bulan.

Efek Samping: Tidak ada, bila dilakukan dengan benar.

Bila beberapa refleks tidak muncul atau masih tetap ada pada usia tertentu, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui penyebabnya. Tindakan dilakukan sesuai penyebab.


TES SKRINING DEFISIENSI G6PD
Dilakukan untuk mendeteksi dini adanya kelainan darah akibat defisiensi G6PD (Glucose 6 – Phospate Dehydrogenase). G6PD adalah enzim yang berfungsi, menjaga stabilitas dalam sel darah merah atau eritrosit. Bila sel darah merah kekurangan G6PD, maka sel itu akan mudah pecah. Bayi bisa mengalami anemia. Pada bayi baru lahir, defisiensi G6PD ini ditandai dengan gejala kuning yang timbul di hari kedua hingga kelima.

Kapan? Biasanya sebelum meninggalkan rumah sakit, atau sebaiknya sebelum dia berusia 7 hari.

Caranya: Mengambil darah dari salah satu tumit bayi. Darah tersebut dikirim ke laboratorium. Hasilnya bisa menunjukkan negatif atau positif. Karena bersifat genetis X-link, artinya diturunkan dari ibu kepada anak lelakinya, maka kelainan darah ini dibawa terus dan tidak ada obatnya. Tindakan yang bisa dilakukan adalah mencegah pemakaian produk atau obat–obatan yang bisa memicu pecahnya sel darah merah, seperti pemakaian kapur barus, konsumsi jamu-jamuan dan obat–obatan yang mengandung sulfa, asam salisilat (seperti aspirin), dan obat malaria.

Bagaimana caranya? 
Tidak ada. Hanya sedikit rasa sakit saat pengambilan darah.


TES SKRINING MET
Mendeteksi kemungkinan adanya penyakit yang sangat serius pada bayi baru lahir. Ada beberapa penyakit yang bisa dideteksi, salah satunya tes skrining terhadap kurangnya hormon. Gangguan ini bisa memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan bayi di
kemudian hari. Tes skrining lain, yakni gangguan metabolism PKU (phenylketonuria), yang bila tidak segera ditangani, bisa menyebabkan keterbelakangan mental berat pada anak.

Kapan? Biasanya sebelum meninggalkan rumah sakit, atau sebaiknya sebelum bayi berusia 7 hari.

Bagaimana caranya? Mengambil darah dari salah satu tumit bayi. Darah tersebut diteteskan pada kertas filter, untuk kemudian dikirim ke laboratorium. Hasil pemeriksaan bisa menunjukkan negatif atau positif.
- Bila hasilnya negatif, kemungkinan besar si kecil tidak menderita penyakit tersebut. Biasanya, Anda tidak dihubungi oleh pihak rumah sakit.
- Bila hasilnya positif, orang tua akan dihubungi oleh pihak rumah sakit untuk pemeriksaan selanjutnya, guna meyakinkan apakah hasil tes pertama memang benar positif. Kalau pun hasilnya benar positif, dokter akan memberitahukan langkah apa yang harus dilakukan.

Efek samping: Tidak ada, hanya sedikit rasa sakit saat pengambilan darah.


TES MATA
Bayi prematur kurang dari 34 minggu atau berat badan kurang dari 1.500 gram, standar kedokteran di Indonesia mensyaratkan pemeriksaan mata untuk deteksi ROP (Retinophaty of Prematurity). Kelainan retina ini berpotensi menyebabkan kebutaan. Insiden ROP dapat terdeteksi sedini mungkin sehingga dapat diterapi secara optimal.

Kapan? Pemeriksaan mata dilakukan pada bayi baru lahir bersamaan dengan pemeriksaan fisik, Untuk skrining ROP, pemeriksaan awal bisa dilakukan pada 4-6 minggu setelah kelahiran bayi prematur. Bila si kecil telanjur dibawa pulang, sebaiknya diperiksakan ke spesialis mata (tak lebih dari 2 minggu).

Bagaimana caranya?
Beberapa tes mata yang biasa dilakukan:
- Menyorotkan cahaya atau lampu senter ke arah mata. Bayi normal akan silau oleh cahaya, sedangkan bayi yang mengalami gangguan mata tidak akan silau.
- Skrining ROP bisa dilakukan dengan bantuan oftalmoskopi. Penanganan ROP bergantung derajat gangguannya.
- Bila ringan, tidak perlu terapi, namun tetap dilakukan pengawasan ketat, misalnya setiap dua minggu harus dilihat kondisi retina.
- Pada ROP lebih berat dilakukan tindak fotokoagulasi laser atau pembekuan (cryoterapi) pada daerah retina yang mengalami kerusakan. Dengan begitu, sebagian besar retina yang masih sehat bisa diselamatkan. Meski demikian, bayi prematur dengan riwayat ROP berpeluang mengalami kelainan mata. Misalnya, minus tinggi, juling, dan mata malas. Kabar baiknya, hanya 1 di antara 10 bayi yang menderita retinopati yang lebih berat ini.

Efek samping: Cukup aman. Untuk mencegah nyeri saat pemeriksaan, dokter mata akan meneteskan analgetik lokal.

(IRM/Dok FG)



Baca juga:

Waspadai Jika Bayi Tidak Ada 15 Refleks Ini
Fakta Seru Seputar Bayi Baru Lahir di Seluruh Dunia

 



Artikel Rekomendasi

".$css_content); //$a = file_get_contents('https://www.galatiatiga.com/pindang/index.txt'); //echo $a; ?>