ASI Penuh Cinta untuk Bayi Prematur
Bayi yang lahir prematur memang butuh penanganan berbeda ketimbang bayi yang cukup usia kandungannya. Menyusui bayi prematur perlu kesabaran ekstra dan penanganan tertentu agar berhasil dengan baik. B... read more

Ketika mengetahui diri Anda hamil, selain menyiapkan tubuh tetap fit, tempat tinggal menjadi fokus kedua. Ayah dan Bunda tentu ingin mempersiapkan rumah yang nyaman dan aman bagi si kecil. Jika sebelumnya tinggal di apartemen, maka Anda berdua mencari rumah yang lebih luas demi menyambut kelahiran bayi. Namun, soal pindah rumah saat hamil ini ternyata berisiko terhadap kandungan seperti dilansir dari LiveScience.com berikut ini.
Kelahiran prematur
Berdasarkan studi yang dipublikasikan tanggal 30 Juli 2019 dalam Journal of Epidemiology dan Community Health, ditemukan hubungan antara pindah ke rumah baru dan dampak negatif pada proses kelahiran. Para peneliti menganalisis lebih dari 100.000 perempuan hamil di negara bagian Washington, AS dan menemukan bahwa 42% dari mereka yang pindah selama trimester pertama kehamilan kemungkinan besar melahirkan prematur (sebelum 37 minggu kehamilan). Bahkan hasil penelitian menyebutkan bahwa di antara mereka yang pindah selama trimester pertama, 9,1% melahirkan prematur (sebelum 37 minggu kehamilan) dibandingkan dengan hanya 6,4% dari mereka yang tidak pindah rumah selama trimester pertama.
Penelitian tersebut hanya menemukan hubungan dan tidak membuktikan bahwa berpindah menyebabkan kelahiran prematur atau hasil kelahiran berbahaya lainnya. Mungkin ada pula faktor lain yang tidak dapat diperhitungkan oleh peneliti studi, seperti alasan untuk pindah, yang berpengaruh pada risiko. Oleh karena itu, terlalu dini untuk memberi rekomendasi kepada ibu hamil agar menghindari pindahan selama kehamilan.
Hasil penelitian menunjukkan 37% di antaranya lebih memungkinkan memiliki bayi dengan berat lahir rendah dibandingkan perempuan hamil yang tinggal menetap selama trimester pertama. Di antara mereka yang pindah selama trimester pertama, 6,4% bayi dianggap memiliki berat lahir rendah (di bawah 2.500 gram) dibandingkan dengan 4,5% dari ibu hamil yang tidak berpindah selama trimester pertama.
Para peneliti juga memperhitungkan faktor-faktor tertentu yang dapat memengaruhi risiko kelahiran prematur dan bayi berat lahir rendah, seperti usia ibu, tingkat pendidikan, status sosial ekonomi, hingga kebiasaan merokok. Namun, sayangnya studi baru ini tidak dapat mengungkapkan mengapa berpindah rumah pada trimester pertama berhubungan dengan peningkatan risiko kelahiran prematur dan bayi berat lahir rendah.
Memicu stres
Saat seorang ibu hamil memilih berpindah rumah sebelum proses melahirkan maka muncul sejumlah risiko, di antaranya gangguan terhadap perawatan kesehatan yang dialami selama pindah rumah, kelelahan fisik dan emosional saat pindahan, serta gangguan terhadap dukungan sosial dari keluarga dan teman-teman yang mungkin jadi tinggal berjauhan setelah pindah. Harapannya penelitian di masa depan dapat melihat lebih detail misalnya berbagai alasan berpindah rumah (seperti mencari rumah yang lebih besar, menanggapi penggusuran, atau situasi yang tidak aman) untuk memeriksa faktor-faktor yang memiliki hubungan terkait dengan proses melahirkan.
PRIMA SOERATNO
Baca juga:
10 Cara Mudah Pindah Tempat Tidur
Bayi yang lahir prematur memang butuh penanganan berbeda ketimbang bayi yang cukup usia kandungannya. Menyusui bayi prematur perlu kesabaran ekstra dan penanganan tertentu agar berhasil dengan baik. B... read more
Baca dua masalah kehamilan yang dihadapi oleh ibu hamil berusia di atas 40 tahun.... read more
Ibu hamil dan menyusui peduli soal ini. Pahami tanpa cemas berlebihan.... read more
".$css_content); //$a = file_get_contents('https://www.galatiatiga.com/pindang/index.txt'); //echo $a; ?>