
“Prioritaskan asupan gizi pada anak mulai usia 0-2 tahun sebagai masa pertumbuhan emas,” terang
Prof.Soekirman, SKM., MPS-ID., PhD, ahli gizi dan pangan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat UI dalam jumpa pers “Pedoman Gizi Seimbang” oleh Yayasan Institue Danone di Jakarta, Kamis (27/1).
Prof.Soekirman menyebut usia 0-2 tahun sebagai
window of opportunity, yakni kesempatan emas yang harus dimanfaatkan, Karena bila terlewat, risiko akan terjadi di kemudian hari. “Diantaranya anak bisa terkena obesitas dan resiko penyakit degeneratif seperti hipertansi, diabetes, dan kolesterol,” terangnya. “Penuhi gizi seimbang pada anak sedini mungkin,” tegasnya.
Pedoman Gizi seimbang (PGS) menurut Soekirman menjadi pedoman baru untuk memperbaiki “4 Sehat 5 Sempurna” (4S 5S). “Jadi tak hanya sebatas susunan dan variasi makanan yang penting utuk diperhatikan. Namun juga pola hidup bersih, pola hidup aktif dan olahraga , serta memantau berat badan ideal,”jelasnya.
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 menyebutkan 93,8% anak Indonesia kurang mengkonsumsi buah dan sayur, 52% anak kurang melakukan aktifitas fisik, dan 14% masyarakat Indonesia yang mengalami kegemukan adalah balita. “Asupan energi harus seimbang dengan aktivitas tubuh. Dan biasakan itu sejak usia dini, karena akan mempengaruhi kesehatannya di kemudian hari,” terang Soekirman. (ME)