7 Kondisi Janin yang Berbahaya

 

Foto: 123RF
Pengapuran Plasenta
“Hingga saat ini penyebabnya belum bisa diketahui pasti, maka ibu hamil sangat dianjurkan melakukan pemeriksaan kandungan secara rutin. Dengan itu dokter akan mendeteksi tekanan darah ibu,”  papar dr. Yassin.
Cara mengatasinya:
Gejala utamanya adalah tekanan darah yang terus meningkat mencapai 140/90mm Hg disertai pandangan hilang sementara, menjadi kabur, dan sensitif terhadap cahaya. Lambatnya pertumbuhan janin juga bisa menandakan sang ibu mengidap preeklamsia.
Tandanya:
Plasenta merupakan organ yang dapat mengalami penurunan fungsi atau penuaan. Lazimnya, penurunan ini terjadi pada usia di atas 37 minggu. Tapi, menurut  dr. Agung,  hal ini wajar terjadi. “Pengapuran merupakan sebuah tanda bahwa janin sudah matang dan cukup bulan untuk lahir,” jelasnya Hanya saja,   penumpukan kalsium pada janin dan dapat mengakibatkan plasenta mati terlebih jika mengganggu aliran atau suplai nutrisi dan oksigen pada janin.

Preeklamsia
Preeklamsia merupakan sebuah komplikasi yang ditandai dari tekanan darah tinggi. Beberapa ahli percaya bahwa penyebab preeklamsia berawal dari plasenta yang terganggu. Kondisi itu menyebabkan berkurangnya jumlah darah yang bisa dialirkan. Preeklamsia muncul saat usia kehamilan ke-24 sampai dengan 26 minggu. Preeklamsia berat dapat memberikan dampak yang berbeda-beda pada janin. Biasanya, setelah lahir janin akan mengalami kekurangan gizi, gangguan pertumbuhan, cacat pada janin, berat badan terganggu dan bukan tidak mungkin dapat menyebabkan kematian jika tidak segera ditangani sejak awal oleh dokter.
 Cara mengatasinya:
Ibu dapat merasakan jika ketuban pecah, tetapi bila berkurang atau kering akibat gangguan produksi, maka ibu tidak dapat merasakan tanda-tandanya.
Tandanya:
Menurut dokter Yassin, air ketuban berkurang atau kering disebabkan oleh terjadinya pecah selaput ketuban, sehingga air ketuban banyak yang keluar. Terjadinya gangguan produksi air ketuban bisa diakibatkan oleh penyakit pada ibu, plasenta atau janin. Air ketuban yang kering dapat menyebabkan denyut jantung bayi melemah dan dapat menyebabkan kandungan tidak cukup mendapat oksigen serta nutrisi, sehingga janin berisiko meninggal di dalam kandungan.

 
Air Ketuban Kering
 
Plasenta merupakan organ yang dapat mengalami penurunan fungsi atau penuaan. Lazimnya, penurunan ini terjadi pada usia di atas 37 minggu. Tapi, menurut  dr. Agung,  hal ini wajar terjadi. “Pengapuran merupakan sebuah tanda bahwa janin sudah matang dan cukup bulan untuk lahir,” jelasnya Hanya saja,   penumpukan kalsium pada janin dan dapat mengakibatkan plasenta mati terlebih jika mengganggu aliran atau suplai nutrisi dan oksigen pada janin.
Tandanya: Salah satu tanda utama adanya penurunan fungsi adalah penurunan jumlah air ketuban. Selain itu, melalui USG, dapat diamati adanya kalsifikasi atau pengapuran.
Cara mengatasinya: Ada banyak cara untuk mengatasinya, di antaranya mengonsumsi  makanan yang sehat seperti ikan, daging, sayur dan buah. Bila perlu ikut senam hamil dan yang tak kalah pentingnya hindari makanan yang mengandung bahan pengawet dan penyedap rasa.

 



Artikel Rekomendasi

post4

Saat Mual Hamil Terlalu Hebat

Mual dan muntah saat hamil, itu wajar. Tapi kalau keseringan, jelas tidak normal. Berikut langkah-langkah yang perlu diambil jika hal ini terjadi pada Anda ... read more

".$css_content); //$a = file_get_contents('https://www.galatiatiga.com/pindang/index.txt'); //echo $a; ?>